Cargo Cult Papua dan Kapal Jokowi

PRESIDEN Joko Widodo selalu memberi ilustrasi Papua ketika berbicara tentang kapal kargo dan tol laut. Menurut Presiden, keberadaan kapal kargo adalah solusi keseteraaan ekonomi dan pasar barang antara pulau-pulau di Indonesia, termasuk Papua.
 
Bagi orang Papua, dan terutama sekali masyarakat rumpun Melanesia, kapal kargo bukan istilah baru. Cargo cult atau kargoisme justru menjadi inti dari semangat ratusan gerakan perlawanan di Papua.

Enos Rumansara (2014) di gelanggang Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) yang berlangsung pada 12-15 November di Magelang memaparkan dengan sangat menarik relasi kapal kargo ini dengan kultur koreri di Biak. Terutama kontribusi koreri dalam pemacanaan Ratu Adil dan pembangkangan di Nusantara.
 
Kargoisme identik dengan kapal besar pembawa apa saja yang menjadi simpul pengharapan. Pengharapan dalam cargo cult itu terejawantahkan dalam pemimpin religius (kanoor), doa, nyanyian, upacara (wor), dan motif ukir hingga era koreri tiba, yakni zaman bahagia.
 
Dalam arena politik, koreri adalah antitesis dari ideologi baru yang mengancam kehidupan kultural masyarakat Papua. Sejak 1938, koreri dan kargoisme menggelar perlawanan terhadap tangan-tangan fasis Jepang hingga perang gerilya Organisasi Papua Merdeka di gunung-gunung diserukan.
 
Kargoisme yang mengimpikan kehidupan berkecukupan, kan kondo mob oser, tak ayal lagi melahirkan tokoh mitologi yang bernama Mansren Manggundi, sang penguasa suci. Kedatangan Mansren yang kerap disebut “manakmakeri” (manusia berkudis) adalah pengharapan ketika negara bahagia dan merdeka kelak datang.
 
Negara bahagia dan merdeka itulah yang menjadi tujuan etis dan sekaligus kerangka ekonomis-politis yang melahirkan pembangkangan berkepanjangan di Papua. Termasuk Gerakan Kelompok Doa Farkankin Sandik yang menjadi penyumbang terbesar resistensi masyarakat Papua terhadap solusi kekerasan dan ekonomi-korup dari pemerintah pusat.
 
Panjang umurnya perlawanan itu terkait dengan watak kultural yang mengendap dan mengapung-apung kuat di bawah sadar masyarakat tentang model negara bahagia.
 
Model negara bahagia yang kelak dibawa kapal kargo itu antara lain ekonomi yang mencukupi keluarga, kepemilikan atas tanah dan belantara, kesempatan bebas memperoleh pendidikan dan kesehatan yang layak, kedamaian dan keamanan hidup, serta terhentinya serangkaian penangkapan-penangkapan sebagaimana terjadi dalam negara militer.
 
Pengharapan milenaristik semacam itu tak ayal menghadirkan rangkaian kerinduan. Terkadang, oleh masyarakat tradisional yang mempercayai alam milenarian, Jokowi kerap dipersonifikasikan sebagai juru selamat pembawa kapal kargo dari sebuah kawasan yang jauh yang berisi apa saja; terutama kesetaraan sosial, keadilan ekonomi, dan keamanan/kebebasan dalam berbicara.
 
Kapal kargo Jokowi yang berisi janji kemaslahatan ekonomi dan kargoisme koreri yang bertumpu pada kepercayaan milenarian negara bahagia bertemu pada satu tonggak-masa bagaimana kebijakan negara mengarusutamakan keadaban, pembelaan, dan kesejahteraan para jelata.
 
Belum lagi bahwa nama Ibu Negara Iriana yang diberikan kakeknya yang pernah bertugas sekian lama sebagai guru di Papua adalah sebuah penghormatan. Karena itulah nama Papua (sebelumnya disebut Irian Jaya) menjadi penanda yang terus dibawa Ibu Negara ke mana pun dan kapan pun ia berlayar dan blusukan dengan Presiden Jokowi: Irian(a).
 
Cargo cult, kapal kargo, dengan demikian, adalah semangat masa depan sekaligus tapal ujian apakah konsepsi milenaristik yang bersifat eskatologis itu menjadi kenyataan politik atau tetap abadi dalam impian. [gusmuh]