Ironi Negeri Maritim

::gus muh 

Rangga Lawe, pendekar pesisir terbaik pelabuhan Tuban, akhirnya mati di air tawar pedalaman Jawa (Sungai Tambakberas). Kematian yang dramatis pada 1295 itu diinformasikan Kitab Pararaton dan didedah secara detail Kidung Rangga Lawe.
 
Kematian tragis itu kemudian didramatiskan S Tidjab dan Sanggar Prativi secara audio di serial sandiwara Tutur Tinular (1989), khususnya Episode 10 dan 11.
 
Rangga Lawe—atau Piagam Kudadu menyebutnya Arya Adikara—tumbang di air tawar pedalaman Jawa. Kita membaca tumbangnya Rangga Lawe sebagai nubuat hilangnya pamor Maritim di Jawa.
 
Tuban pada masanya adalah pelabuhan internasional terbesar. Ketika masa suram Majapahit datang, lenyap pula kebesarannya. Dalam novel klasik Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik, kekuatan Maritim Tuban tersaruk tak berdaya ke bawah pasir. Kedigdayaan Maritim hanya lelangut tanpa gelora ketimbang jung-jung terlatih dari Negeri Atas Angin.
 
Armada maritim Tuban hancur segalanya tatkala rezim pasca Majapahit, yakni Demak, lebih berorientasi pada air tawar di pedalaman. Demak lebih kagum pada Angkatan Darat (Kuda) ketimbang Angkatan Laut (Kapal). Pada akhirnya parafrase: “Jawa ini lautnya luas daratannya kecil” mirip dengan dongengan yang nyeri.

 
Ironi Maritim
 

Art|Jog 13 dan Borobudur Writers & Cultural Fest secara bersamaan mengangkat “Maritime Culture” dan “Bahari dan Rempah Nusantara” sebagai tema penjelajahan dan perbincangan kreatif tahun 2013. Dua penyelenggaraan event seni dan kreativitas di Yogyakarta dan Jawa Tengah ini seperti merayakan ironi panjang yang nyeri tentang maritim.
 
Yogyakarta dan juga Borobudur memang dekat dengan laut. Namun lautnya lebih banyak terbentuk sebagai dongeng negatif lewat tuturan Nyi Roro Kidul. Laut selatan adalah laut mati, laut yang tak produktif. Di kota dengan tradisi maritim yang “negatif” inilah tinggal seniman, pengrajin, sekolah seni, dan penulis budaya. Mereka diminta untuk memeriksa dan merayakan (matinya) kultur maritim itu.
 
Peristiwa seni itu hanya serangkaian kronik dari suara-suara yang (ingin) mengembalikan (peradaban) maritim yang riuh di media massa dalan 10 tahun terakhir ini. Dan tentu saja disertai lini masa peristiwa buruk di paras maritim.
 
Yang agak mengagetkan adalah ketika Raja Mataram Sri Sultan Hamengkubuwono X menyerukan untuk membangun budaya maritim ini dalam sebuah kampaye politik tahun 2009. Kita tahu, tak ada jejak yang kuat budaya maritim dalam Kesultanan Mataram.
 
Ketika menyerang pelabuhan laut VOC di Batavia pada 1629, Sultan Agung menggunakan armada darat. Dan kalah. Yang tersisa dari kelahan itu adalah tanah-tanah pertanian (agraris) di desa-desa sepanjang Jawa Barat yang dilalui armada darat, terutama Karawang dan Cirebon.
 
Menonton Maritim

“Rangga Lawe mati” adalah kutukan. Berabad-abad tak bertolak ke laut, kita lupa bagaimana bau laut, bahasa ikan, rempah, cara berperang di atas buih ombak, dan cara mengeksplorasi bahari menjadi kekuatan ekonomi baru.
 
Bahkan lupanya kita bersifat mendasar, seperti kata W.S. Rendra (2008) di Yogyakarta, “Negara kita adalah negara satu-satunya di dunia yang memiliki laut. Negara-negara lain hanya mempunyai pantai. Tetapi negara kita mempunyai Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Sulawesi, Laut Flores, Laut Banda, Laut Aru, Laut Arafuru, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Halmahera, Laut Timor dan Laut Sawu. Namun toh ketatanegaraan kita tetap saja ketatanegaraan negara daratan, (bukan) Negara Kesatuan Maritim Republik Indonesia.”
 
Pemerintah sudah menghapal setiap jengkal luas laut dan pantai Nuswa Antara bernama Indonesia ini. Namun data-data itu ditafsir sebagai pariwisata. Tak jauh dari itu. Maritim dilihat bukan sebagai budaya dan sikap, apalagi politik, melainkan maritim sebagai tontonan.
 
Karena tontonan ini pula, misalnya, pemerintah men-darat-kan orang-orang Bajo di Gorontalo dan Manado. Mereka diminta menetap, bertani, dan ikut KB. Padahal, kata etnografer asal Prancis Francois-Robert Zaco (2008), orang-orang Bajo telah hidup di atas buih laut berabad-abad lamanya. Perahu adalah rumahnya. Ikan adalah teman hidupnya.
 
Dan realitas baru menimpa orang Bajo di abad 21 adalah bergelombang orang-orang film atas persetujuan pemerintah menjadikan orang-orang laut ini jadi tontonan.
 
Di Yogyakarta di tahun 2013, mari ramai-ramai menonton kultur maritim sampai tandas.

* Dimuat di Harian Kompas “Teroka” 11 Juli 2013, hlm 12