Pameran Ong Hari Wahyu: Menafsir Api Bumi Manusia

Ong Hari Wahyu akhirnya melunasi janji: mengeluarkan “buku” seperti yang dimauinya dalam pameran tunggal “Joyo Semoyo: Melunasi Janji” di Bentara Budaya pada medio Desember 2014.

Sebagai pionir senirupa sampul buku, sudah ribuan sampul dibuat Ong. Rupa-rupa penerbit yang memesannya: dari penerbit rumahan hingga penerbit industri. Dan semua pesanan itu dilayaninya, baik dengan layanan cepat maupun layanan lambat yang membikin si pemesan diliputi rasa was-was.
Puluhan tahun praktik senirupa dengan medium sampul buku itu dilakoni Ong yang membuatnya menjadi alamat yang ikonik. Terutama sejarah estetika buku di Yogyakarta maupun di Indonesia.
Salah satu ciri khas estetika Ong adalah old-picture. Terutama gambar lawasan kehidupan rakyat jelata dan pembesar-pembesar kolonial. Bahkan dalam titik ambang tertentu, lawasan menjadi pilihan estetik Ong. 

Dengan estetika lawasan, Ong mengemas masa lalu dengan kritik kekinian. Dan Ong menggunakan sampul buku sebagai siasat menghadirkan riwayat untuk menghidupkan hayat.

Joyo Semoyo – Ong Hari Wahyu

Api Bumi Manusia

Dalam sikap berkeseniannya, Ong menampik menjadi tukang. Ia adalah seniman. Dalam pasal klasik seorang seniman, kebebasan kreatif adalah harga mati. Ketika menampilkan pameran “Joyo Semoyo”, Ong bukan saja melunasi janji untuk melayani rekanan penerbit yang membutuhkan sentuhan kreatifnya, melainkan juga pameran itu sebentuk maklumat Ong bahwa dari ribuan buku yang sudah dibuatkannya selimutnya, ia sesungguhnya terpincut pada beberapa saja.

Dan Ong memilih Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer sebagai buku yang paling mengguncang kesadarannya tentang bagaimana menyelami riwayat dan bagaimana bersiasat membangkitkan hayat kini.

Bumi Manusia bagi Ong adalah gagasan dan sekaligus estetika. Empat kotak buku yang terbuat dari kayu pinus adalah siasat cerdik Ong untuk menafsir ulang api Bumi Manusia.

Secara visual, book-art seukuran tabloid itu mirip buku besar yang datang dari masa yang jauh. Namun ketika buku itu dibuka, kita berhadapan dengan hayat kekinian yang direpresentasikan oleh sabak (ipad) dan denting suara dan gambar peralihan abad 19 ke 20 yang keluar dari teknologi kiwari itu. Di setiap gambar jadul digital dalam sabak itu Ong memberi API sebagai kode sebuah semangat.

Belum lagi Ong memilih beberapa dari ribuan kutipan paling penting dan kuat dari roman legendaris Pramoedya itu untuk menegaskan bahwa gagasan yang jernih dan orisinal, walau datang dari lawasan, tetap aktual.

Seperti kutipan dari tokoh Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia di sampul salah satu panel book-art: “Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”.

Bagi Ong, gagasan seperti itu tetap hidup, sebagaimana kutipan yang dinukil Ong dari roman Pram yang lain berjudul Gadis Pantai: “Laut tetap kaya. Takkan kurang. Cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan kerdil”.

Tapi Ong bukan pembaca yang hanya tertarik pada gagasan atau isi buku. Selain mengasah kepekaan pada set dan suasana masyarakat yang dihadirkan pengarang, Ong mengajak kita percaya bahwa buku-yang-bisa-diraba yang diproduksi oleh arus zaman yang dihadirkan Bumi Manusia adalah kekuatan modern yang melahirkan model masyarakat yang kemudian dikenal dengan sebutan “negara-bangsa”.

Buku dan terutama barang cetakan semacam koran/majalah adalah tonggak modernitas yang tak bisa diabaikan perannya dalam sejarah pergerakan menuju terbentuknya Negara bernama Republik Indonesia.

Lima tokoh yang gambar artistiknya dihadirkan dan dipilih Ong secara cermat dan berurutan – Kartini, Tirto Adhi Soerjo, Mas Marco Kartodikromo, Semaun – adalah anak kandung dunia cetak dan menjadikan buku dan benda-benda cetakan sebagai siasat menghadapi kuasa kolonial dengan grafiti nilai diskriminatif yang selalu terpampang di pintu pembesarnya: “Anjing dan pribumi dilarang masuk”.

Art-Book “Bumi Manusia” – Ong Hari Wahyu

 
Kekuatan Buku

Menghadirkan 10 dingklik yang digambari visual ibu (pertiwi), 8 blawong, dua patung sosok renta seakan menggiring opini bahwa Ong adalah sejenis seniman purba yang hanya terpesona dengan seluruh tubuh-seni, baik gambar maupun audio, yang datang dari masa lampau.

Namun kita dikejutkan saat ia menghadirkan sekaligus dalam lawasan itu sabak yang menjadi salah satu pencapaian teknologi terkini dalam medium komunikasi. Lagi-lagi, Ong menyentak kita bahwa medium bukan segalanya, namun bukan juga gampang menafikan kehadirannya. Batu, lontar, buku/koran, dan sabak (digital) sudah menjadi takdir sejarah sebagai titian linimasa yang merekam pencapaian-pencapaian kerja budi di bumi manusia.

Sebab di balik fungsinya sebagai wadak, medium-medium itu juga menjadi kode untuk melihat sejarah terbentuknya masyarakat: batu (prasejarah), lontar (kerajaan), buku/koran cetak (negara-bangsa), dan sabak digital/elektronik (globalisasi).

Argumen itu yang menjadi sandaran mengapa Ong percaya betul dengan kekuatan buku yang dicetak. Maka dari itu empat kotak kayu Tetralogi Bumi Manusia yang dihadirkan kembali Ong adalah tafsir visual yang unik dan sekalgus memorandum gagasan untuk membaca nyala api bagaimana kita melewati masa-masa gelap kolonialisme untuk berjudi pada masa datang “menjadi Indonesia” di era sabak digital kiwari.

Pameran “Joyo Semoyo”, oleh karena itu, selain merupakan cara Ong Hari Wahyu menyampaikan portofolio estetika desain grafisnya kepada publik yang sudah dilakoninya selama puluhan tahun, juga sekaligus memberitahu bagaimana roman sejarah Pramoedya Ananta Toer mempengaruhi gagasannya untuk membaca riwayat gelap-terang Indonesia dan kuasa hayat melayari hidup masa depan. [gusmuh]


* Versi cetak dipublikasikan Harian Jawa Pos Minggu, 21 Desember 2014