In Memoriam Hasmi “Gundala” Suraminata (1946-2016): Ketika Sains Memanggil, Asmara Menepi

Awan tebal menaungi pemakaman seniman Giri Sapto, Imogiri,
Bantul, Jogjakarta, 7 November, saat jasad Hasmi Suraminata diturunkan ke liang
lahat. Ia dimakamkan di sisi kiri Teras III bersebelahan dengan nisan maestro
seni grafis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Sun Ardi. Gumpalan awan
di pemakaman yang lebih kurang 123 meter jaraknya dari makam para raja Jawa itu
serupa awan gelap yang menjadi musabab lahirnya Gundala yang menjadikan nama
Hasmi masuk dalam deretan maestro komik Indonesia.

Suatu
sore di sebuah cafe …
demikian balon di panel pertama serial
kesatu Gundala Putera Petir yang
diterbitkan Pentastana Production tahun 1969. Dua belas halaman pertama, Hasmi
memperlihatkan ketegangan antara panggilan asmara Minarti dan ketakjuban Sancaka
pada sains; antara keriuhan kafe dan kesunyian dalam laboratorium; antara godaan
pesta ulang tahun dan keterpesonaan pada ilmu pengetahuan. Hasmi menabrakkan
dua situasi yang saling membelit itu dan berakhir runyam dalam gulungan awan
tebal Kota Jogjakarta. Minarti dan Sancaka putus asmara; percobaan Sancaka
mencari serum anoda anti petir untuk menyelamatkan masyarakat dari sambaran
petir juga turut berantakan.
Pada saat remuk asmara dan gagalnya percobaan sains
itulah Sancaka disantap petir di sebuah lapangan di luar kota. Sekaligus
peristiwa ini oleh Hasmi dituliskan di lembar ke-12 sebagai: “pangkal dari ceritera … Gundala Putera
Petir”
.

Lahir dari awan gelap, badai, dan petir, Gundala yang
bisa berlari secepat topan dan mencambuk serupa petir terbit hingga 23 judul.
Judul terakhir yang terbit pada 1982 adalah Surat
dari Akherat
. Dengan membawa Gundala, nama Hasmi disebut dalam satu tarikan
napas dengan para pemegang lisensi tonggak komik klasik Indonesia, seperti
Bahzar, Djair Warni, Djas, Ganes Th, Gerdi WK, Hans Jaladara, Henky, Jan
Mintaraga, Kho Wang Gie, Kus Bram, Kwik Ing Hoo, Man, Oerip, R.A. Kosasih, S.
Ardisoma, Sim, Taguan Hardjo, Teguh Santosa, Wid NS, Zaldy, Zam Nuldyn.
Gundala lahir saat situasi Indonesia mengalami apa yang
disebut serbabaru: rezim baru, impian baru, pembangunan baru, generasi baru, dan
gairah baru. Tahun kelahiran Gundala adalah tahun pencanangan Repelita I yang
menjadi tonggak dari apa yang disebut: ekonomi sebagai panglima. Gundala, saya
kira, menjadi representasi sebuah impian tentang kekuatan baru yang dahsyat;
sebuah harapan setelah keluar dari tragedi politik yang tak saja berjelaga dan
muram, tapi juga pendarahan yang luar biasa dahsyatnya. Gundala adalah impian
tentang sains yang mesti menopang jalan ekonomi yang bersandar kepada
developmentalisme.
Sosok Gundala kita tahu bukanlah karakter orisinal dari
Hasmi. Karakter manusia super dengan memiliki kesaktian petir ini diciptakan duet Gardner Fox dan Harry Lampert pada 1940 dalam komik berjudul The Flash (DC Comics). Dan, kita tahu bahwa Amierika Serikat menjadi aktor
penting yang berada di balik penumbangan Sukarno dan melahirkan Orde Baru.
Termasuk dalam rangkaian inagurasi kemenangan ini USA membawa serta seluruh
mesin ekonomi pertambangan dan sungut kebudayaan populernya memasuki Indonesia
yang tengah mengarahkan haluan ideologinya sepenuh-penuhnya ke Barat.
Berbeda segalanya dalam soal cerita dan latar, Gundala dan The Flash adalah sebuah repsentasi dari orde yang sedang berada
pada titik tahun-tahun madu. Gundala menyodorkan gelombang kekuatan baru yang
tak dimiliki para pendekar-pendekar masa lalu. Apalagi, si jagoan kita yang
mahasakti ini datang dari Kota Yogyakarta. Hasmi mengeksploitasi
setandas-tandasnya ikon-ikon kota raja ini; dari Malioboro hingga Parangtritis;
dari becak hingga pit.
Gundala dengan mudah menjadi impian paling memukau dalam
keluarga Indonesia yang serbabaru itu. Karakter Gundala seorang insinyur, pencinta
sains, dan pembabat kejahatan melenggang mendapatkan simpati; terlepas bahwa
karakter itu adalah impian Hasmi sendiri yang gagal melewati tes masuk jurusan
teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Lewat jalan seni (komik),
impian yang tak tercapai itu tersalurkan dalam fiksi ilmiah. Sebagaimana
karakter Sancaka (nama Gundala saat menjalani hidup sebagai manusia biasa),
asmara Hasmi juga nyaris sama. Keasyikan pada seni (sains dalam diri Sancaka),
Hasmi (dan juga Sancaka) adalah dua sosok yang terlambat panas dalam asmara.
Bagi keduanya, ketika seni (dan sains) memanggil, asmara menepi. Hasmi
berkeluarga ketika usia sudah memasuki usia separuh abad; sementara Sancaka
menikah saat serial Gundala Putera Petir sudah memasuki jilid ke-18, yakni Pengantin Buat Gundala (1977). Hasmi
menikahi dengan Mujiyati, Sancaka mengawini jurnalis cantik bernama Sedhah Esti
Wulan yang kelak menjadi superhero
dengan nama Merpati.

“Pendidikan Politik”
Di luar Gundala yang melambungkan namanya, Hasmi Suraminata
dan sekondannya Wid NS pernah terlibat dalam pembuatan komik pendidikan
(politik) sejarah perjuangan bangsa.
Anda pernah membaca komik grafis berjudul Merebut Kota Perjuangan? Nah, itu dia komik
bikinan Hasmi dan Wid NS. Komik bersampul ekspresif, yakni seorang seorang
pemuda kekar berpakaian putih dan celana robek yang dilipat selutut sambil
berteriak keras menancapkan bendera merah putih, diterbitkan Yayasan Sinar Asih
Mataram (Jakarta) pada tahun 1980.
Proyek komik politik itu mesti kita masukkan dalam satu
paket dengan rancangan film kolosal Janur
Kuning
yang digarap Alam Rengga Rasiwan Surawidjaja pada 1979. Bahkan,
dalam soal propaganda politik dengan medium budaya populer, film Pengkhianatan G 30 S/PKI yang digarap
secara didaktis Arifin C. Noer selama dua tahun sejak 1982 juga turut diseret
masuk.
Sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, Hasmi dan
Gundala adalah ikon anyar Kota Jogja. Nah, barangkali mengulangi kesuksesan
Gundala si Mahasakti Mataram di lapangan sejarah Indonesia itulah Hasmi
dipundaki amanat yang saya kira sangat berat. Apalagi, sosok yang dijadikan
“Gundala Baru” itu juga sama-sama lahir dan besar di Yogyakarta, yakni “Pak”
Harto si Jenderal Besar. Komik grafis ini—dan disempurnakan oleh Janur Kuning—saya kira sukses besar
menenggelamkan peran Sultan Hamengkubuwono IX, Kolonel Bambang Sugeng, dan
bahkan Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam narasi Serangan Umum 1 Maret.
Dalam komik grafis ini, Soeharto, sebagaimana Gundala, adalah sosok yang heroik
dalam inisiasi dan tindakan. Harto adalah superhero
dalam benak murid-murid sekolah di seluruh Indonesia.
Tapi, di sinilah titik ironi sejarah bekerja. “Jasa”
Hasmi dalam menciptakan komik grafis itu dianggap negara sebagai “komik
pengabdian”. Hasmi tak menerima bayaran atas “jasa besar” mempropagandakan
kedahsyatan tokoh “Soeharto” di palagan Serangan Umum. Menceritakan ironi ini
kepada sahabat-sahabat terdekatnya, Hasmi yang hidup sederhana di sebuah gang
kecil di daerah Karangwaru, Yogyakarta itu kerap memandang nanar dan melankoli.
Kok bisa?
Dengan ironi itu pula takdir Hasmi dipahatkan! Hasmi seperti
liliput yang bangkit bersama (impian) Orde Baru yang membangun kerajaan
ekonominya; dan sekaligus dalam pesta kejayaan itu Hasmi terpuruk dalam
kesulitan ekonomi sebagaimana nasib komikus Indonesia setelah invasi komik
masuk ke Indonesia seperti tsunami.
Barangkali harapan yang tersisa untuk mengenalkan kembali
Hasmi kepada publik adalah bahwa sejak 2005 komunitas Bumi Langit menerbitkan
ulang seluruh serial komik Gundala
yang dikerat oleh waktu. Seperti itu. [Muhidin M. Dahlan]
* Pertama kali dipublikasikan di Harian Jawa Pos Minggu, 13 November 2016