#TurbaLiterasi – Catatan Akhir dan Terima Kasih

Perjalanan menyusuri #TurbaLiterasi yang berlangsung selama 20 hari berakhir dengan menghasilkan 26 rekaman suara dari beragam kalangan; yang muda yang tua; petani, guru, hingga akademisi; dari komunitas literasi desa hingga komunitas seni dalam kota; dari pejabat pemerintahan hingga pensiunan pegawai; dari pabicara hingga penyair.

Selama perjalanan 20 hari itu saya melihat dari jarak dekat nama-nama daerah yang semasa kecil membuat saya selalu tercekat dan berandai-andai; tentang nama-nama kawasan seperti “Campalagian”, “Balanipa”, “Pambusuang”, “Somba”, “Malunda”, “Tapalang”, “Awu”, “Mamuju”, “Kalukku”, “Karossa”, “Benggaulu”, “Sarudu”, “Baras” “Lariang”, “Bambaloka”, “Pasangkayu”, “Randomayang”, “Surumana”, hingga “Tanjung Malei”.

Perjalanan ini disebut “Turba” yang berarti “Turun ke Bawah”–akronim tua yang dikenal dalam sejarah pergerakan. Penyebutan ini sehaluan dengan cara pandang orang Mandar melihat “atas” dan “bawah”. Atas adalah selatan atau menuju ke Makassar, Sulawesi Selatan. Sementara itu, “bawah” adalah utara yang mengarah ke Sulawesi Tengah hingga Gorontalo dan Sulawesi Utara.

Jadi, #TurbaLiterasi ini titik awalnya adalah selatan, lalu bergerak ke utara; dari Sulawesi Barat hingga Sulawesi Tengah; dari Balanipa hingga Balaesang; dari Teluk Mandar di Polewali Mandar hingga Tanjung Malei di Donggala.

Sepanjang perjalanan yang menempuh sekira 643 kilometer atau jika dihitung bolak-balik lebih kurang 1306 kilometer saya mencatat yang dilihat, merekam suara mereka yang berkisah, menyimak dengan saksama cerita-cerita leluhur di masa jauh, terlibat dalam sejumlah diskusi, membaca buku, merefleksikan Mandar dan Kaili, menata kenangan.

Cuplikan-cuplikan catatan-catatan #TurbaLiterasi dalam perjalanan itu dipublikasikan secara harian oleh Harian Radar Sulbar di halaman satu yang berjumlah 11 kali serial esai bersambung.

Melalui kesempatan ini, izinkan saya menyampaikan terima kasih kepada yang menemani sepanjang perjalanan melintasi pesisir barat Sulawesi selama 20 hari itu. Terutama, keluarga yang menampung saya menginap barang satu malam: Keluarga Besar Bustan Basir Maras di Malunda dan Mamuju, Keluarga Besar Ridwan Alimuddin feat Nusa Pustaka di Pambusuang, Keluarga Dahrin Dahlan di Pasangkayu, Keluarga Besar Papa Saldin di Bambalamoto, dan Keluarga Besar Neni Muhidin feat Nemu Buku di Palu.

Sebagian besar nama-nama di bawah ini saya bawa serta suara mereka hingga ke Yogyakarta, hingga ke Radio Buku:

M. Ridwan Alimuddin (Pambusuang) yang menjadi pengundang pertama untuk datang ke kampungnya dalam pergelaran Perpustakaan Rakyat Sepekan IV. Sejak setahun silam ia sudah berbisik-bisik ke saya untuk datang ke Mandar.

Urwa (Pambusuang) yang menjadi guide tour mengasyikkan, terutama ziarah kubur di Campalagian.

Dahri Dahlan (Pambusuang) si inisiator Perpustakaan Rakyat Sepekan yang kaya cerita.

As’ad Sattari (Pambusuang) si guru bahasa dan sekaligus santri pembelajar yang menjadi salah satu penggerak Nusa Pustaka.

Syuman Saeha (Cmpalagian) atau akrab disapa Chandra adalah penyair autodidak yang dari cerita dan jalan pedang kepenyairannya membuat saya masygul. Dia drop out sejak kelas 3 SD dan memilih jalan sastra di kampung. Ngeri!

Muh. Saleh (Majene), seorang anak muda yang bergiat di pramuka menyerahkan energinya untuk mengayuh sepeda dalam semangat pustaka bergerak. Saleh yang ingin ibunya melihatnya dengan bangga bergerak di Majene lewat Onthel Pustaka.

Maman Suherman (Jakarta) si senior menulis yang bersahabat yang walau berjumpa di Museum Nusa Pustaka hanya lima jam dalam diskusi malam bisa melecut ragam imaji.

Bustan Basir Maras (Malunda-Mamuju) yang dengan kecakapan ilmu ke-Mandar-annya dan kehangatan persahabatannya memungkinkan saya mendapat banyak informasi dan masukan. Barangkali ada empat catatan saya yang justru lahir dari percakapan dengan Bustan si Penyair Mandar.

Abdul Majid Gatung P. Mallabarang (Tapalang) kepala sekolah di salah satu SD di Takandeang yang menjadi pos cerita rakyat. Ia paqbicara yang fasih mengisahkan saling silang masa silam orang Mandar, baik yang mereka tinggal di pesisir maupun pedalaman.

Muhammad Ali dan Komunitas Korumta (Malunda) menjadi persinggahan dalam diskusi. Cerita-cerita Ali dan Korumta membuat saya selalu percaya, setiap orang punya daya magisnya sendiri.

Sastra Ilo atau Ilham si jurnalis muda dari Fajar (Makassar) yang kerasukan dengan sastra, terutama Lekra dan Saut Sitomorang (BAH!), membuat saya selalu merasa punya teman dekat. Ilo bahkan sempat mengajak ke Belang-Belang di mana seorang penyair Mandar eks tapol Pulau Buru berdiam.

Jasman si jurnalis cum aktivis literasi keras kepala yang memungkinkan catatan-catatan #TUrbaLiterasi ini dipublikasikan secara serial di koran di mana ia bekerja, Radar Sulbar.

Abdy Kurniawan Yusuf dan komunitas Teras Kata yang memungkinkan saya mendengarkan cerita kegigihan mereka dalam kota mengisi sukma pembangunan infrastruktur dengan buku dan sastra di kafe Teras Mamuju.

Haji Andi Ando Andi Pelang (Randomayang-Pasangkayu) yang cerita-cerita rakyat Mandarnya membuat saya terkesima. Terutama cerita Para Penjual Angin di pesisir Kota Mamuju. Di akhir perjumpaan kemudian saya tahu, ia adalah teman remaja ayah saya yang sudah lama meninggalkan tanah kelahiran karena sebuah kriminal besar.

Dahrin Dahlan (Bambalamotu-Pasangkayu) seorang anggota parlemen Mamuju Utara dari PKS dengan garis lurus politiknya memilih lebih baik miskin ketimbang “bermain-main” dengan politik uang.

Arhamuddin (Baras-Pasangkayu) si aktivis yang kini berada di jantung perencanaan Kabupaten Mamuju Utara. Cerita masa kecilnya hingga remaja membuat siapa pun terkesima.

Ayu Arman (Tangerang Selatan) atas kiriman buku memoarĀ Agus Ambo Djiwa yang ditulisnya.

Muhammad Isnaeni atau Neni Muhidin (Palu) si brewok yang mendirikan komunitas Nemu Buku. Cerita remajanya yang berandal, anak band si penista para pembaca buku. Dalam sekuensial kehidupannya yang jalang, entah sinar wahyu yang mana yang menimpa ubun-ubunnya, kemudian membawanya ke titik taubatan nasuha dan menjadi pembela literasi yang gigih di Sulawesi Tengah. Nemu Buku yang didirikannya menjadi pusat episentrum kegiatan literasi di Bumi Kaili.

Zulkifly Pagessa (Donggala) si arsitek yang bersulih menjadi pegiat teater di Sulawesi Tengah ini menjadikan riset sebagai basis material pemanggungannya. Kisahnya yang mengawinkan pertunjukan kontemporer dan mitos-mitos tua yang berkembang dalam pedalaman kisah manusia-manusia Kaili patut diapresiasi.

Jamaluddin Hadi (Wani-Palu) adalah ustaz yang percaya betul membaca banyak buku membuatnya sangat berbeda. Ia mengawinkan sedemikian rupa ilmu retorika, logika, filsafat yang membuat materi ceramahnya selalu membawa daya kejut dan daya pikat. Anekdot-anekdotnya yang dibawakan dengan sangat serius tapi menerbitkan tawa–bahkan jemaah salat Jumat–membuat namanya cukup terkenal. Saya berjumpa dengannya lewat hantaran jurnalis dan sekaligus sahabat Yardin Hasan.

Muhammad Nur Ahsan (Palu) si cendekia muda Islam dari IAIN Palu yang membuat saya selalu optimis, stok pembicara agama selalu ada di kalangan pegiat literasi. Ia banyak berkisah soal Datokarama hingga Guru Tua yang mahsyur.

Imogail Zam-Zani Jalaluddin (Toaya) si penulis fiksi pemalu yang berdiam di Sindue. Ia anak muda kesepian menjaga nyala cerita-cerita rakyat, terutama cerita Manggerante yang masyhur di Pantai Barat.

Yaumil Masri (Dampal) yang memilih menjadi guru bagi sekolah alam di Sikola Pomore. Keputusannya keluar dari kampus dan total menjadi pengasuh sekolah alam di Dampal membawanya kepada satu titik paling bermakna dalam hidupnya.

Abdian Rachman (Meli) seorang guru bahasa Indonesia yang juga penulis dan juga pengegrak teater. Bahkan, grup teater remaja yang diasuhnya mendapatkan hibah Kelola di tahun 2017.

Mahmud Lataka (Tanjung Malei) adalah juru kunci di Tanjung Malei di mana masyarakat Balaesang Tanjung memiliki cerita asal-usul. Atas kebaikan hati Abdian Rachman-lah saya bisa mendengarkan saling silang cerita orang Mandar hingga mendarat di Tanjung Malei.

Cerita dari nama-nama di atas saya ingin kembalikan kepada nama-nama tersebut yang sudah menyumbang kisah literasi dari berbagai arah kedatangan dalam #TurbaLiterasi di pesisir barat Sulawesi dalam 20 hari perjalanan.

Salam takzim!