[100 Konser] Historiografi Konser dalam Kontestasi Genre Musik di Indonesia

Ketika musik pop menguasai nyaris seluruh industri musik beserta panggung mainstream dunia konser kita saat ini, barangkali, buku ini bisa menjadi alternatif refernsi pengetahuan musik kita. Meskipun, buku setebal 682 halaman ini tidak cukup mengungkap lengkap fakta-fakta sejarah konser musik Indonesia. Tetapi, paling tidak, buku ini dapat membangkitkan girah kita terhadap pernyataan dan pertanyaan baru perihal musik: ternyata di balik megah redupnya genre, terdapat sejumlah nama yang bekerja keras membangkitkannya.

Seperti yang ditemukan dalam bab “Ujungberung Sebagai Genesis ‘Musik Berisik’”. Secara singkat menceritakan fenomena kemunculan “musik cadas” (underground) sebagai anti-tesis perasaan xenophobia dan konstruksi industri musik yang tidak memberi jalan bagi musik ekstrem.

Lebih dari itu, Bandung Berisik sebagi langkah yang membawa nama Ujungberung tidak hanya sekadar kecamatan atau tempat hilangnya Sangkuriang dalam legenda rakyat Jawa Barat. Namun, sebagai tempat berseminya “pemberontakan” musik di seantero Bandung bahkan nasional. Tidak hanya sampai di situ, dalam perkembangannya, Ujungberung berhasil melahirkan band sekaliber Burgerkill yang pada tahun 2013 meraih penghargaan Metal Hammer Golden Gods Awards 2013 di London dalam kategori “Metal As F*ck”.

Ini bukti bahwa di Indonesia tidak saja hanya memiliki budaya yang beragam. Tetapi, juga keberagamaan selera musik. Persaingan antar genre musik ini membawa angin segar sekaligus bukti berkembangnya musik di Indonesia, bahkan dunia.

Selain itu, tidak ragu lagi, runtuhnya pemerintahan Orde Baru membuat ruang ekspresi bermusik kita makin luas, karena tidak ada lagi kritik melalui musik dianggap sebagai gerakan subversif. Maka, musik akan selalu sebagai cermin realitas sosial sekaligus kritik atas kebijakan-kebijakan pemerintah. Dalam arti, musik akan terus memberontak dengan caranya masing-masing.

Dalam pengantar 100 Konser Musik di Indonesia, Anas Syahrul Alimi dan Muhidin M. Dahlan mengatakan, selain buku sebagai bagian dari mengisi kepustakaan pengetahuan pertunjukan musik (di) Indonesia, buku ini juga ikhtiar menjaga asa bermusik dengan bercermin pada kaca sejarah yang pernah ditorehkan.

Resensi ditulis Zaim Yunus. Selengkapnya di Berdikaribook.red, 22 Oktober 2018

Penulis: Anas Syahrul Alimi dan Muhidin M. Dahlan
Penerbit: I:boekoe
Cetakan: I, Agustut 2018
Tebal: 684; 15 x 24 cm
ISBN: 978-979-1436-52-6