Puisi dan Penyair Yogyakarta (4): Berdagang dengan Penyair

Ketika fajar internet masih lamat-lamat di beranda kalbu para sastrawan, sekelompok penyair menabalkan suatu era baru ketika “egalitarianisme” medium berkarya terbuka lebar. “Cyber poetry”, demikian penyair Saut Situmorang menyebutnya. Sastra siber—dan kemudian puisi siber—kemudian menjadi…

Setengah Abad Api Diponegoro (Di)padam(kan)

“Kita pewaris2nya jang absah ini, harus melandjutkan api Diponegoro bernjala terus. Abadilah dikau!” ~ Editorial Harian Rakjat, 8 Januari 1955, hlm 1 Episode terakhir Java Oorlog dihidupkan kembali lewat eksibisi seni rupa di Galeri Nasional,…