Bugis dan Ranjang Indonesia

Lembar “baru” cerita parlemen Indonesia dibuka oleh kehebohan dunia maya saat anggota DPR dari Fraksi Nasdem, Achmad Fadil Muzakki Syah, berfoto bersama dengan tiga istrinya di Senayan, Jakarta.

Artinya, ia memboyong semua istrinya ke Senayan untuk “pesta” di hari pelantikan. Lalu, di hari pertama di Senayan itu pula, pengasuh Pondok Pesantren Al-Qodiri Gebang, Patrang, Jember, ini tertangkap kamera tertidur. Tampak, ia sangat pulas seperti usai bekerja habis-habisan.

Fantasi liar netizen pun bermain-main sepanjang hari, sepanjang malam. Apalagi, media pemburu klik mengeksploitasinya jam per jam.

Saya tidak sedang meneruskan fantasi itu. Namun, cerita besar pertama yang mengiringi hari pertama dunia parlemen kita justru dibuka oleh “dunia ranjang”. Dan, soal ranjang itu, tentu saja bukan salah Lora Fadhil. Soal ranjang adalah bagian yang inheren dengan kebudayaan Indonesia dengan melewati jalan yang sangat panjang.

Soal ranjang Lora Fadhil dan tiga istrinya Indonesia, literasi Bugis punya kontribusi. Soal kontribusi orang Bugis inilah saya dipertemukan kembali buku “lama” Muhlis Hadrawi berjudul Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis saat menemani para penulis muda di Kota Makassar di pelatihan menulis kreatif selama 4 hari.

Buku terbitan Inninawa pada 2007 dengan rate “khusus dewasa” ini membahas teks klasik yang terdapat dalam naskah lontara koleksi Kantor Arsip Nasional Makassar.

Assikalaibineng yang dibentuk dari dua kata dasar–lai adalah laki-laki, bine atau baine adalah perempuan–merupakan teks yang mengurai hubungan seksual suami-istri. Artinya, teks ini mengurai secara lengkap semua ritus persenggamaan dari awal hingga akhir yang disertai dengan doa-doa yang mesti dibaca.

Baca penjelasan Muhlis Hadrawi, “Susbtansi teks Assikalaibineng: hubungan seks, pengetahuan alat produksi, tahap atau prosedur hubungan seks, doa-doa, mantra-mantra seks, teknik perangsangan (foreplay), gaya dan gerakan persetubuhan, teknik sentuhan titik seksual perempuan, penentuan jenis kelamin anak, pengendalian kehamilan, waktu baik dan buruk dalam berhubungan, tata cara pembersihan tubuh, pengobatan kelamin, serta laku seksualitas lainnya”.

Teks Assikalaibineng yang dipalang oleh peringatan “Khusus Dewasa” ini dibuka dengan kakawin seperti ini:

Bismillaahi rahmaanir rahiim

Pasal. Yang menjelaskan syarat ilmu nisa/ Jika kamu hendak melakukannya, ambil wudhu terlebih dahulu/ Jika sudah berwudhu, bacalah sembilan kali/

Laa tadrikuhul absara wahuwa

yadrikuh laa absaru wahuwa

lisainul habiir …

Apa yang Anda bayangkan? Ya, seks bagian yang inheren dengan dunia peribadatan. Seks itu sesuatu yang suci (berwudu). Ia memiliki dimensi spiritualitas. Melakukannya dengan cara yang benar sejatinya mengagungkan proses penciptaan.

Namun, Assikalaibineng mengingatkan, untuk sampai ke titik itu, butuh pengetahuan yang rinci tentang tubuh beserta seluruh saraf dan fungsinya. Biologi dan teologi, oleh karena itu, sejalan dalam Assikalaibineng.

Baca teks ini: Bismillah laa iru lillahi jallahu kharajat mai’atu rajulu sebanyak tiga kali/ Cium buah dadanya/ Kemudian sentuh pusarnya/ Kemudian peganglah farjinya dan bacalah/ Inna fatahnaa laka fatham mubiinal/ Kemudian beri salam dengan membaca ini / …

Demikianlah, Assikalaibineng memberikan penjelasan yang luar biasa terstruktur praktik seksual antara lai dan baine di atas ranjang; mulai dari tahap awal (foreplay), kontak kelamin (koitus), hingga tahap penyelesaian.

Assikalaibineng mendorong dilakukannya tiga tahap itu dalam percintaan untuk mencegah praktik kekerasan atau “pemerkosaan” dalam hubungan suami-istri. Maka dari itu, proses perangsangan atau cumbu rayu menjadi sangat penting. Assikalaibineng memberi peringatan keras untuk tidak boleh tiba-tiba melakukan proses koitus tanpa harus melewati tahap pertama. Ini bisa dipahami. Sebab, laku seksual merupakan kegiatan yang melibatkan mental, percakapan dua tubuh, dan keberterimaan (cinta).

Dari sisi visual, teks ini juga menarik. Sebagai filolog, Muhlis memperlihatkan secara rinci apa yang disebut lontara sebbo (lontar lubang). Kertas di teks Assikalaibineng ini ada yang sengaja dilubangi saat bertemu dengan visual vagina. Tepatnya, di posisi pintu vagina.

Ya, sebagai “buku panduan seks”, teks memberikan tuntunan yang detail. Bahkan, di bagian tertentu dijelaskan secara rinci bentuk vagina hingga bagaimana mengenali titik-titik rangsangnya, serta doa apa yang dibaca saat mencium dan menyentuhnya.

Khasanah 28 teks Assikalaibineng ini menjadikan seks sebagai sebuah laku bermartabat. Di sini, seks bukan sesuatu yang tabu dibicarakan, melainkan dipandang sebagai ritus kesuburan, ritus penitisan generasi baru.

Menurut saya, Assikalaibineng mestinya dihadirkan dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Kita tahu, sepekan sebelum anggota DPR baru dilantik, rancangan undang-undang ini menjadi salah satu tuntutan ribuan massa demonstrasi mahasiswa di banyak kota untuk segera disahkan.

Ranjang Indonesia bermartabat dan semerbak mewangi tanpa kekerasan bisa terejawantahkan dengan membaca ulang secara perlahan langkah demi langkah laku dan gerakan seks yang terpatri dalam narasi Assikalaibineng.

Atas nama ranjang Indonesia, kita mesti berterima kasih kepada Bugis.***

* Dipubliksikan pertama kali di Harian Fajar (Makassar), 16 Oktober 2019